Primus Sosialisasikan UU Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Di hadapan warga anggota DPR-RI Primus Yustisio sosialisasikan UU Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (foto : @Suar)

Primusyustisio.com– Dalam sambutannya pada acara sosialisasi UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Bogor, Senin (6/11/2017); Primus sampaikan, Naskah Akademik UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dijelaskan, lebih dari tiga dasawarsa, pertumbuhan ekonomi yang berbasis pembangunanisme sebagian besar tersumbang oleh eksploitasi sumber daya alam. Manfaat yang sedemikian besar, dengan upaya yang relatif mudah untuk memperolehnya, didukung oleh kebijakan yang sangat akomodatif dan responsif terhadap kebutuhan eksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam itu, telah membawa dampak degradasi sumber daya alam—dari segi kualitas dan kuantitas—serta, bahkan dampak sosial.

Anggota DPR Komisi VII ini juga sampaikan, salah satu asas penting sebagai pilar pembangunan ekonomi adalah, pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dalam UUD 1945, pasal 33 Ayat (4) disebutkan : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Lahirnya UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dilandasi semangat UUD 1945 Pasal 33 Ayat (4), dengan tujuan; UU ini dapat menjadi dasar regulasi untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup di sekitar kita. Selain dari itu, sebagai jawaban konkretnya, dalam setiap kali penyusunan APBN, salah satu pilar penting yang membingkai seluruh politik anggaran APBN adalah Pro Lingkungan Hidup (einvironment).” Namun dalam prakteknya, berbagai kegiatan pembangunan ekonomi di Indonesia masih tak ramah terhadap lingkungan.

Salah satu contoh aktual saat ini adalah reklamasi teluk Jakarta. Bisa kita bayangkan, akan terjadi pancaroba ekosistem laut di kawasan teluk Jakarta pasca reklamasi, yang menyebabkan biota laut di kawasan itu akan punah. Dampak langsung secara ekonomi adalah terhadap warga nelayan di sekitar kawasan itu yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Pendapatan ekonomi mereka akan terpuruk, penurunan daya beli dan terperosok ke bawa garis kemiskinan.

Hal lain yang dapat kita saksikan adalah penambangan liar yang begitu rentan merusak lingkungan sekitar. Terutama mencemari air sungai sebagai sumber kehidupan warga, baik untuk irigasi dan kebutuhan konsumsi setiap hari. Selain kasus reklamasi, kegiatan Ilegal loging pun menjadi salah satu faktor paling dominan yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan hidup. Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan. Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama.

Di akhir sambutannya, ia tegaskan, lahirnya UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, adalah dalam rangka meregulasi pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dalam KETENTUAN UMUM Pasal 1 Ayat (2) UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; disebutkan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Diselenggarakannya sosialisasi UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, adalah dalam rangka memberikan edukasi/pengetahuan kepada masyarakat terkait peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup, agar masyarakat dari waktu ke waktu terus sadar dan merasa penting menjaga kesimbangan lingkungan hidup sesuai regulasi yang ada demi kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

Share This Post

Post Comment