Primus, Politik dan Ubudiyah (Part 1)

Penulis : MUNIR A.S

Primusyustisio.com – Dalam berbagai literatur Islam, menjelaskan perubahan manusia sifatnya dinamis. Tapi dalam dinamitas itu, kecenderungan perubahan manusia, selalu senantiasa bergerak secara vertikal menuju nilai-nilai spiritual; keilahiaan. Semua orang, berpotensi menjadi orang baik. Lantas, orang yang semakin dekat dengan agamanya; Tuhannya, membuatnya lebih teduh. Tak disorientasi dan kehilangan harapan. Pun selalu berkhidmat pada sesama manusia dengan mengharapkan ridha dari Allah SWT.

Mungkin, prolog di atas adalah suatu sudut pandang yang terpampang dalam corak hidup sosok Primus Yustisio saat ini. Sebagai stafnya, saya melihat dan memaknai dimensi tarbiyah ini dari sosok pribadi Primus dalam jarak yang cukup dekat. Ia berlatar pekerja seni peran. Tak dipungkiri, sebagaimana yang sering kita saksikan di media, kehidupan di sekitar industri seni peran yang tak lepas jauh dari berbagai fakta dan rumors miring.

Tentu itu suatu perjalanan panjang menantang berbagai ujian keimanan dan kesalehan. Tak pelak, dalam kehidupan keartisannya yang nyaris tak dirundung masalah, Primus termasuk sosok yang mampu melewati semua underestimate; (anggapan remeh atau miring) pada kehidupan para selebritis dengan penuh keteguhan hati.

Pernah suatu waktu di ruangannya saat jeda rapat DPR, Primus berkisah; ia pernah syuting di salah satu pub atau bar; tapi ia mampu memberikan batasan pada dirinya. Sebatas profesionalitas. Dan ia menyempatkan diri shalat, setelah syuting di lokasi tempat hiburan malam itu. “Saya pernah syuting disalah satu tempat dugem, tapi saya solat disitu setelah syuting.” Begitu kisahnya.

Saya memahami, apa yang disampaikannya itu sebagai suatu demarkasi (batas; pemisah) yang jelas pada dirinya. Bahwa dalam soal-soal kesalehan; seorang muslim harus memberikan batasan yang kuat pada hitam dan putihnya kehidupan. Dan insya Allah Primus adalah sosok yang melakukan itu dengan istiqamah.

Belakangan saya melihat; kalau tak berlebihan, ia semakin tawadhu. Selalu mewajibkan dirinya shalat berjamaah lima waktu di masjid. Dan hal itu dianjurkannya pada semua stafnya. Ia selalu berusaha untuk khatam Al quraan lebih banyak. Dan acap kali menyampaikan pesan-pesan keislaman dalam setiap sesi kegiatannya sebagai anggota DPR dalam acara apapun.

Belakangan, ia selalu meletakkan semua urusan; termasuk politik ke dalam tujuan-tujuan kehidupan akhirat. Semuanya diletakkannya sebagai ibadah. Tarulah hari ini ia di politik, maka keteguhan, ketawadhuannya itu, perlu dilihat dengan mata batin yang jernih sebagai suatu kecenderungan; orientasi. Bahwa seseorang, bila telah memilih titik tujuan kehidupannya, maka ia akan melabuhkan seluruh energi kehidupan dunianya menuju tujuan tersebut.

Dan bila politik; telah memiliki orientasi ibadah, maka cita-cita berpolitik itu akan bersandar pada nilai-nilai “habluminallah wa habluminannas.” Dalam bentuk pengabdian sebagai wakil rakyat pada konstituennya dengan senantiasa mengharapkan ridha dari Allah sebagai amal ibadah.

Saya memahami hal demikian sebagai jalan yang kini dipilih Primus dan keluarganya. Saya juga memahami ini sebagai suatu tarbiyah tunnufus. Bukan saja tarbiyah pada soal-soal ubudiyah (amalan individu), tapi juga tarbiyah sosial dan politik kepada masyarakat. Memilih dakwah sebagai bingkai yang mengkerangkai suatu corak politik adalah jalan yang berat, tapi Primus sedang berikhtihar melakukannya. Insyaallah. Bersambung

Share This Post

Post Comment