Primus, Politik dan Ubudiyah (Part 2)

Primusyustisio.com – Sebagai stafnya mas Primus di DPR, tiap hari saya duduk di balkon rapat menyimak materi sidang komisi. Dan setiap jelang zuhur atau asar, saya selalu melongok ke dalam ruang rapat komisi, untuk memastikan apakah mas Primus sudah angkat kaki dari rapat untuk menunaikan salat. Dan sudah pasti, 10 menit jelang zuhur atau asar, ia sudah bergerak menuju masjid depan gedung Nusantara I DPR-RI.

Dalam pengamatan saya, kedisiplinan menjaga watu salat, terejawantah dalam kesehariannya. Ia termasuk salah seorang yang saya kenal dengan kedisiplinan waktu yang apik. Itu terlihat dalam berbagai kegiatan di kantor atau di dapil. Bila tak ada kendala macet, ia pasti hadir tepat waktu.

Orang di Barat sana bilang waktu adalah uang (time is money); sementara orang di Timur Tengah sana bilang waktu laksana pedang (al waktu kassaif). Kedua adagium ini benar tergambar dalam kedisiplinan waktu mas Primus. Saya dan para staf lainnya sudah pasti was-was, bila mas Primus sudah on the way (OTW), karena ia akan datang ruangan rapat tepat waktu. Itu pengalaman sehari-hari di tempat kerja.

Saya pernah mengikuti pengajian duha oleh ustat Nazarudin Umar di masjid Sunda Kelapa setiap hari minggu pagi. Disitu dia bilang, salat adalah suatu jenis ibadah yang membentuk bangunan psikologis seorang muslim. Berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari. Dan dengan bersandar pada pendapat ustat Nazarudin ini, saya melihat kedisiplinan waktu mas Primus, adalah suatu dampak; positif dari salat terhadap kepribadiannya sebagai seorang muslim.

Tulisan ini bermaksud sebagai suatu pembelajaran (tarbiyah). Karena semua hal yang baik, perlu dijadikan suri tauladan bagi kita dalam berdisiplin waktu. Setiap kepribadian yang baik perlu dijadikan teladanan; sebagaimana Rasulullah SAW, menjadi contoh (ushwah) bagi kita. Termasuk bagaimana kita mengambil hikmah dari kedisiplinan waktu mas Primus dalam kesehariannya. Wallahu’alam

Share This Post

Post Comment