Selamat Hari Pendidikan Nasional


Oleh : Primus Yustisio

Hampir setiap tahun kita bertemu Hari Pendidikan Nasional. Tepatnya pada 2 Mei. Setiap momentum ini, kita diajak melakukan refleksi akan pentingnya pendidikan suatu bangsa. Bahwa keberlanjutan suatu bangsa, erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dan sudah pasti kualitas SDM, melekat pada indeks pendidikan suatu negara.

Kalau kita berkaca, maka indeks pendidikan Indonesia masih rendah. Betapa kagetnya, ketika kita melihat data indeks pendidikan Indonesia. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina.

Penelitian ini dipublikasikan dalam International Seminar and Report Launch’ di Hotel Santika, Jalan Pintu 1 TMII, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017). Siapa yang tak kenal Ehtiopia? Satu dari 10 negara paling kere se dunia. Miskin. Tapi pendidikannya jauh lebuh maju dari Indonesia, berdasarkan riset JPPI.

Dalam penelitian ini ada 5 indikator yang diukur oleh JPPI, di antaranya governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability. Dari kelima indikator yang diukur Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%. Sementara Ehtiopia berada di peringkat 79%.

Ada yang salah dengan pendidikan kita? Dalam satu dekade belakangan, pendidikan kita benar-benar mengejar angka. Sistem pembelajaran benar-benar dipacuh; agar mengejar prestasi yang sifatnya komulatif. Akibatnya, sebagai pilar kebudayaan, antara sekolah, masyarakat dan nilai-nilai pendidikan berjalan dengan dirinya masing-masing. Bahkan saling paradox antara satu dengan lainnya. Dengan demikian, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability dari pendidikan kurang mendapatkan hasil yang baik dari arah kebijakan pendidikan nasional.

Meskipun politik anggaran kita membuka ruang seluas-luasnya; yakni alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, dalam tata kelola; anggaran yang besar ini tak diakomodasi oleh sistem yang baik dalam menyasarkan arah kebijakan pendidikan nasional.

Sekolah dan siswa, dibikin bak mesin yang setiap tahunnya memproduksi nilai yang sifatnya nomorik semata. Akibatnya kita gagal dalam meletakkan karakter (etos kerja dan moral) dalam satu kesatuan arah kebijakan pendidikan nasional. Hari demi hari, kita juga saksikan betapa demoralisasi juga acap kali muncul dari balik sekolah dan ruang kelas.

Setiap tanggal 2 Mei, kita selalu melakukan refleksi perjalanan pendidikan nasional. Bukan Cuma ritual tahunan, tapi perlu diwujudkan. Pendidikan, adalah pilar kebudayaan. Dan kebudayaan adalah pilar kemajuan suatu bangsa. Selamat Hardiknas 2 Mei 2018.

Share This Post

Post Comment