Memaknai Tahun Baru Islam

*** By : Primus Yustisio, SE

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS At Taubah : 36)

Sesunggunya Al qur’an telah menetapkan sistem perkalenderan. Sabagaimana firman Allah di atas, namun seiring waktu, ijtihad masih berevolusi dengan sejarah. Hingga pada masa kekhalifahan Umar r.a.

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah pada bulan Rabi’ul Awal 1 H atau September 622 M., adalah tonggak sejarah dan basis nilai dalam perkalendran Islam. Dalam literatur pun dijelaskan demikian. Di tahun ketiga kepemimpinan Umar r.a, sistem perkalenderan Islam di tetapkan (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Pada masa pra dan pasca kenabian. Perkalenderan selalu dipautkan dengan peristiwa-peristiwa besar. Termasuk penempatan tahun; contoh, tahun gaja, yang ditetapkan melalui momentum pasukan gaja Abraha menyerang Ka’bah; Mekkah. Demikianpun “Hijrah,” Sebagai momentum besar dan tonggak sejarah peradaban Islam.

Kalau pada periode Mekkah, Rasulullah meletakkan dasar-dasar aqidah (tauhid), maka pada periode Madinah, Rasulullah meletakkan sistem sosial Islam. Meletakkan sistem pemerintahan dan tata kelolanya. Islam dalam perjalanannya, mengalami evolusi kesejarahan bersama momentum-momentum sosial di sekitarnya.

Hal ini membuktikan, bahwa Islam begitu adaptif dengan perkembangan. Dakwah Islam tidak statis, tapi terus mencari bentuk, memodernisasi tata nilai sosialnya dengan berpijak pada Al quran dan hadits.

Kalau meminjam pendekatan sekarang (theory of state), maka pada periode Madinah, Rasulullah telah meletakkan dasar-dasar pemerintahan. Diantaranya; sistem propensial, sistem pendapatan negara melalui baitul mal, sistem kemiliteran, sistem peradilan dan sistem pendidikan. Ada pergeseran pembaharuan yang nyata pada periode dakwah Mekkah dan Madinah.

Pada intinya, peristiwa hijrah, tidak saja soal siklus waktu. Tapi lebih dari itu adalah, memaknai momentum-momentum besar di baliknya. Dan menjadi i’tibar. Mengambil lesson of life di balik peristiwa. Perkalenderan hanyalah siklus ruang dan waktu yang mekanis. Sementara perubahan, adalah sesuatu yang sifatnya kepribadian (sokhsihah). Kita mestinya hijrah dalam pengertian sokhsihah sebagai inti makna hijrah.

Hijrah kepribadian dari jahiliah menjadi hanif. Dari zalim menjadi lebih manusiawi. Dari pelit menjadi lebih dermawan. Dari kasar menjadi lebih lembut dan mengayom, dari sombong menjadi lebih tawadhu, dan setrusnya, dan seterusnya. Itulah makna hijrah per se. Demikianlah makna hijrah sesungguhnya.

Yang lebih penting adalah, manusia melakukan evalusi kesadaran dalam dirinya. Hijrah. Sebagaimana hijranya Rasulullah atas dasar Islam dan keimanan. Tahun baru hijriyah 1 Muharram 1440 H, harus kita jadikan momentum memperbaharui diri (tajdidu nafsiha). Kembali pada fitrah. Menjadikan ajaran Al quran dan hadits menuju pada kebaruan, Kembali pada fitrah. Wallahu’alam

Share This Post

Post Comment