Jihan Fahira Mendukung Da’wah Suaminya

By @Munir Sara

Mari kita flashback, ummul mu’minin, Siti Khadijah ra, sebagai tulang punggung da’wah suaminya—Rasulullah saw di periode awal Islam hingga akhir hayat. Siti Khadijah juga financier bagi da’wah Rasulullah saw. Peristiwa penuh emosi; dan menggahar inti kecintaan, adalah kalah pasca Rasulullah menerima wahyu pertama. Ia dalam keadaan gemetar dan teramat takut.
Cinta dan kelembutan ummul mu’minin, menjadi kekuatan dan pelipur lara Rasulullah. Pasca menerima wahyu di Gua Hira, Rasulullah kembali ke rumah dalam keadaan gemetar dan kedinginan, lalu ia bersandar pada istrinya siti Khadijah. Dalam riwayat, disebutkan Rasulullah;

فَجَلَسْتُ إلَى فَخِذِهَا مُضِيفًا إلَيْهَا
“Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.”

Dalam epos cinta yang penuh emosi dan kemuliaan ini, Rasulullah dikuatkan oleh kekasih hatinya siti Khadijah. Dalam riwayat; ummul mu’minin berkata :

“Jangan khawatir, demi Dia yang menguasai jiwa Khadijah, aku harap engkau akan menjadi nabi bagi umat ini. Allah tidak akan pernah mempermalukanmu, karena engkau baik kepada keluargamu, engkau selalubenar terhadap kata-katamu, engkau membantu mereka yang membutuhkan, engkau mendukung yang lemah, engkau memberi makan tamu dan engkau menjawab panggilan mereka yang dalam kesulitan. ”
Kata-kata Khadijah bak selimut. Menghangatkan dan sekaligus menguatkan. Khadijah; dan kekuatan cintanya pada Rasulullah; menjadi pengusir segala kegundahan.

Kalau mau ditarik ke abad ini, maka siti Khadija adalah The iron women. Di periode-periode awal da’wah Rasulullah, ummul mu’minin ini, terlibat langsung dengan tantangan di medan da’wah hingga ke detail-detailnya perjuangan.
Tentu; ummul mu’minin adalah frame. Ia adalah bingkai besar keteladanan (uswah)—sebagai prototipe, dimana para istri, mendukung kiprah suami mereka; di jalan da’wah. Kita percaya pada adagium lama, “di balik suami yang sukses, selalu ada istri yang tangguh dan bernas.” prototipenya ada pada ummul mu’minin; Siti Khadijah r.a.

Para wanita muslim moderen, perlu me-recycle legacy Siti Khadija; sebagai pattern muslimah moderen. Bahwa mereka kaum muslimah, juga mampu melakukan peran-peran publik; termasuk mendukung suami mereka di medan da’wah dalam berbagai segmen usaha. Baik ia seorang PNS, pebisnis, jurnalis atau seorang politisi.
***
Belakangan, di lini masanya, pesohor Jihan Fahira ikut memberikan warna bagi perjuangan politik suaminya—Primus Yustisio. Dari jarak dekat; saya melihat, Primus telah mengalami reorientasi politik. Dia me-refresh kembali tujuan berpolitiknya. Ijtihad politik itu, kemudian membingkainya secara utuh, bahwa politik adalah da’wah. Konstituen adalah ladang da’wah. Maka segala apa yang ia lakukan di jalur politik, purpose-nya adalah da’wah.

Kini, jika kita lihat lini masa mba Jihan, setiap minggu ia masuk ke kantung-kantung umat; di Bogor. Dari satu majelis ke majelis ta’lim yang lain. Ia masuk ke ceruk komunitas ibu-ibu dan milenialis perempuan. Memberikan penyadaran akan pentingnya partisipasi politik. “Ibu-ibu jangan golput ya, satu suara ibu-ibu di tanggal 17 April 2019, menentukan arah politik dan masa depan pembangunan kabupaten Bogor.” Itu yang dibicarakan mba Jihan.

Dus, selama ini, melalui program nyata kemitraan DPR dan kementerian/lembaga (K/L), mas Primus telah memberikan sentuhan konkret, pada ceruk masyarakat yang belum tersentuh dengan fiskal daerah yang terbatas. Dari program sanitasi, pendidikan, sosial, agama, pemuda, olah raga, IKM, pertanian dan peternakan. Hadirnya mba Jihan, adalah memberikan sentuhan—penyadaran politik dalam langgam yang berbeda; versi kaum emak-emak.

Problem partisipasi politik kaum ibu menjadi penting. Mereka butuh pattern. Perlu ada public figure seperti mba Jihan yang menjadi prototipe mereka dalam partisipasi politik. Hadirnya mba Jihan di setiap basis konstituen mas Primus di Bogor, memberikan warna dan kesadaran baru dalam partisipasi politik kaum ibu dan milenialis perempuan.

Waktu tanggal 26/1/2019, saya mengikuti mba Jihan dan rombongan sosialisasi. Dia menikmati ijtihadnya. Wara-wiri, keluar masuk kampung. Berjibaku di tengah kerumunan warga yang antre selfie hingga cipiki-cipika. Sabar, memaklumi dengan gestur yang friendly. Semua yang mba Jihan lakukan dalam langgam politiknya, tentu tak bisa dilakukan mas Primus. Mereka saling melengkapi—menguatkan. Sebagaimana ummul Mu’minin; menyokong d;awah suaminya, Rasulullah saw. Wallahu’alam

Share This Post

Post Comment