Perhatian Primus Pada IKM di Bogor

Anggota DPR Primus Yustisio bersama Staf Kemenperin dalam acara Bimtek IKM di Hotel Grand Cempaka Mega Mendung-Bogor

Primus bersama Kemenperin sebagai mitranya di DPR Komisi VI, sejak 2014, telah menggiring banyak program pendidikan dan pelatihan di kabupaten Bogor bagi pelaku usaha kecil/memengah dan IKM. Termasuk wirausaha pemula. Beberapa varian program sudah dilakukan bersama K/L. Dari program Wirausaha Pemula (Kemenkop) dari Kementerian Koperasi dan UKM serta Bimtek IKM bersama Kemenperin.

Untuk program Wirausaha Pemula, telah berjalan selama ia berada di komisi VI DPR. Awalnya program WP ini memodali para pelaku usaha pemula setelah mereka mendapatkan program pelatihan. Namun memasuki tahun anggaran 2016, terjadi efisienasi belanja K/L. Dimana terjadi pemangkasan anggaran belanja K/L. Kemenkop dan UKM sebagai K/L terdampak dari program efisiensi belanja negara tersebut.

Konsekuensinya, saat ini program untuk WP tetap berjalan, namun para peserta hanya mendapat pendidikan dan pelatihan. Demikianpun Kemenperin, dulunya pelaku usaha seperti home industry diberi bantuan peralatan sesuai lapangan usaha. Namun dampak dari efisiensi belanja K/L, kini masyarakat pelaku usaha, termasuk IKM, hanya mendapatkan Bimtek.

Keterlibatan Primus dalam menstimulasi UKM di desa juga ditunjukkan dengan mendorong pasar desa ke desa Batok Kabupaten Bogor. Tujuannya adalah; agar dengan pasar desa tersebut, produk pertanian masyarakat desa atau produk UKM pangan dapat dijual ke masyarakat. Termasuk produk pangan konsumsi sehari-hari. Kini pasar desa Batok, menjadi salah satu sentra kegiatan ekonomi masyarakat desa setempat.

Dengan adanya program Bimtek IKM dari Kemenperin, Primus berharap, menciptakan skill bagi pelaku usaha berbasis industrial. “Kalau pelaku usahanya sudah punya cukup kapasitas/skill, maka ia akan inovatif. Kalau sudah inovatif, maka ia akan dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi pada produk IKM.”

Lebih lanjut menurutnya, “selama ini, daya produk kita tertinggal berdasarkan Global Competitiveness Index. Hal ini disebabkan ketertinggalan kita dibidang skill/SDM. Meskipun ada modal, tapi jika terbatas skill-nya, maka prodok yang dihasilkan tidak punya daya saing di pasar. Tidak kompetitif dengan produk-produk luar di pasar domestik maupun internasional.”

“Dengan adanya Bimtek IKM dan juga kegiatan sejenis di K/L sektoral lain, kita berharap dari waktu ke waktu pelaku usaha, khsusunya IKM di Bogor semakin bertambah pengetahuan industrialnya. Bahkan bila perlu, kedepan, kita minta kajian Kemenperin agar melihat potensi pendidikan vokasi berbasis industrial yang linier dengan keunggulan sumber daya ekonomi di kabupaten Bogor,” demikian pungkas Primus (Adm).

Share This Post

Post Comment