Primus Yustisio Apresiasi Dukungan Pertamina ke Rio Haryanto

Kompas.com – Di tengah banyaknya pro-kontra atas dukungan yang diberikan PT Pertamina (Persero) terhadap pebalap F1 Rio Haryanto, bahkan hingga di arena Senayan, anggota Komisi VI DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional Primus Yustisio mengapresiasi langkah yang dilakukan BUMN migas itu.

“Saya membaca di sosial media, di manapun, ada diskriminasi yang Anda berikan. Tapi, itu cuma logika. Hati saya berkata, maaf kawan-kawan, yang dilakukan oleh Pertamina ini sesuatu yang menurut saya harus diberikan apresiasi. Mungkin saya tidak sependapat dengan kawan-kawan,” kata Primus dalam Rapat Dengar Pendapat bersama direksi Pertamina, Jakarta, Senin (22/2/2016).

Primus pun menjelaskan, memang dukungan seperti itu sudah ada dasar hukumnya, yakni dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dalam Bab 5 pasal 74 dituliskan jelas, tanggungjawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

Malah, Primus juga menjelaskan apa yang dilakukan Pertamina untuk mendorong anak bangsa yang memiliki bakat, sepatutnya didukung BUMN lain.

“Kenapa tidak BUMN lain seperti bank-bank memberikan dukungan? Saya sendiri tidak yakin saudara Rio nanti berprestasi. Tetapi kan ini brand image yang dibangun,” ucap dia.

Banjir kritik

Dukungan senilai 5 juta Euro atau setara Rp 75 miliar yang diberikan Pertamina kepada Rio Haryanto untuk bisa melaju ke Formula 1 memang mendapatkan banyak kritik dan pertanyaan dari parlemen.

“Mohon dijelaskan landasan hukum terhadap pebalap muda Indonesia, yang akhir-akhir ini ramai, yang namanya Rio Haryanto. Itu Pertamina memberikan 5 juta Euro, atau setara Rp 75 miliar,” kata anggota Komisi VI DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar, Endang Srikarti Handayani.

Anggota lain dari partai pemerintah berkuasa, yakni Darmadi Durianto bahkan meminta direksi menjelaskan dengan jelas, apa output yang akan diperoleh dengan kocek sebesar itu.

“Apakah hanya mau sok-sokan saja? Berlaga-berlaga doang? Hanya mau terkenal saja? Atau apa output-nya?,” kata Darmadi.

Dia pun meminta direksi Pertamina untuk meyakinkan anggota dewan bahwa uang yang dikeluarkan sebesar Rp 75 miliar itu memang efektif. “Kenapa enggak yang lain? Kenapa bapak tumpahkan begitu banyak uang di saat bapak lagi susah?” kata dia.

Pendapatan anjlok

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto menuturkan, pada 2015 pendapatan BUMN migas itu anjlok hingga 40,34 persen. Hal ini disebabkan harga minyak mentah dunia yang alami terjun bebas.

“Pada 2015 pendapatan Pertamina sebesar 41,76 miliar dollar AS (audited), dengan laba bersih 1,42 miliar dollar AS. Laba bersih tahun 2015 turun 1,82 persen dibandingkan 2014,” ucap Dwi.

Share This Post

Post Comment