Melalui Program Kemitraan DPR Komisi VII dan KLHK, Primus Serahkan Motor Sampah ke Warga

Penyerahan Motor sampah secara simbolik dari KLHK kepada warga melalui Primus Yustisio (foto : admin)

Primusyustiso.com – Melalui program kemitraan, DPR Komisi VII Primus Yustiso dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan sosialisasi Pengembangan Bank Sampah melalui Infrastruktur Hijau pada Senin (9/10/2017). Kegiatan ini berlangsung di Kampung Anggrek Resto Jl.Raya Viktor No. 81 Serpong-Tanggerang Selatan. Primus hadir dalam acara tersebut sekaligus memberikan sambutan dan menerima secara simbolik penyerahan motor sampah dari KLHK. Berikut sambutan Primus pada acara sosialisasi Pengembangan Bank Sampah melalui Infrastruktur Hijau.

Tiga landasan penting pembangunan dalam APBN adalah keberpihakan terhadap lingkungan, selain kemiskinan dan lapangan kerja. Oleh sebab itu, dalam tujuan pembangunan yang bersumber dari APBN, pemerintah dan DPR menyepakati, pentingnya anggaran hijau yang diwujudkan dalam bentuk infrastruktur hijau. Infrastruktur yang ramah lingkungan. Termasuk di dalamnya adalah pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga, dalam rangka menciptakan tata ruang yang sehat dan asri.

Pelatihan dengan tema “Pengembangan Bank Sampah Melalui Infrastruktur Hijau,” bertujuan untuk mendidik masyarakat, agar sampah yang selama ini menjadi masalah dalam tata lingkungan, dapat didayagunakan dan bernilai ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, masalah sampah ini tidak hanya dilihat dari sisi lingkungan semata, tapi juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Seiring pesatnya perkembangan kota, industrialisasi dan kegiatan ekonomi masyarakat, masalah sampah pun setiap hari menjadi soal di kota-kota besar. Jakarta misalnya, berdasarkan data Dinas Kebersihan DKI, memiliki volume sampah 6.500 – 7.000 ton per hari. Jumlah volume sampah ini, lebih tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah 1.500 – 2.000 ton per hari. Bahkan KLHK sendiri merilis, Indonesia adalah negara ke-dua penyumbang sampah plastik di dunia setelah Tiongkok.

Tentu masalah sampah ini, bukan semata-mata persoalan regulasi, sebab pertumbuhan industrialisasi dan kegiatan ekonomi warga yang terus meningkat, harus berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang sehat dan asri. Oleh sebab itu, yang terpenting adalah mendidik masyarakat, baik pelaku usaha maupun konsumen hingga ke lingkungan RT/RW, dalam rangka mewujudkan penataan lingkungan yang bersih dan asri. Salah satu bentuknya adalah melalui pengelolaan bank Sampah.

Selain itu, pemerintah pun diharapkan menyediakan infrastruktur fisik yang ramah lingkungan. Fasilitas pembuangan sampah berdasarkan kategori atau klasifikasi sampah, harus ada di setiap ruang publik. Baik di sekitar pusat-pusat perbelanjaan moderen dan tradisional hinga ke lingkungan terkecil di tingkat RT dan RW. Bahkan di setiap gang rumah warga.

Ada kesadaran dan ditopang dengan ketersediaan sarana fisik seperti tempat pembuangan sampah serta pengelolaannya, maka hal ini akan sangat mendorong masyarakat, dalam penanganan sampah di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, saya berharap, kegiatan sosialisasi ini berdampak konkret bagi kita untuk dapat menangani masalah sampah di lingkungan kita masing-masing. Semoga Allah SWT meridai kita dalam kegiatan ini (Admin).

Share This Post

Post Comment